(0271) 891 033 mardi_lestari2@yahoo.co.id

WORLD HYPERTENSION DAY 2021

 

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah di 130/80 mmhg atau lebih. Jika tidak segera ditangani, hipertensi bisa menyebabkan munculnya penyakit-penyakit serius yang mengancam nyawa, seperti gagal jantung, penyakit ginjal, dan stroke.

Tekanan darah dibagi menjadi tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan saat jantung berelaksasi sebelum kembali memompa darah.

Hipertensi terjadi ketika tekanan sistolik berada di atas 130 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Tekanan darah yang melebihi angka tersebut merupakan kondisi berbahaya dan harus segera ditangani.

Penyebab dan Gejala Hipertensi

Hipertensi terbagi ke dalam hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer tidak diketahui penyebabnya dengan pasti, sedangkan hipertensi sekunder dapat terjadi antara lain akibat penyakit ginjal, sleep apnea, dan kecanduan alkohol.
Hipertensi memiliki istilah silent killer atau penyakit yang membunuh secara diam-diam. Hal ini karena penderita hipertensi umumnya tidak mengalami gejala apa pun, sampai tekanan darahnya sudah terlalu tinggi dan mengancam nyawa. Oleh sebab itu, penting untuk rutin memeriksakan tekanan darah, baik secara mandiri atau dengan datang ke dokter.

Pengobatan dan Pencegahan Hipertensi
Hipertensi bisa diatasi dengan menjalani pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, menghentikan kebiasaan merokok, dan mengurangi konsumsi minuman berkafein. Namun, jika tekanan darah sudah cukup tinggi, pasien juga diharuskan mengonsumsi obat penurun tekanan darah.
Untuk mencegah tekanan darah tinggi, lakukan olahraga secara rutin dan jaga berat badan agar tetap ideal. Periksakan juga tekanan darah secara berkala ke dokter, terlebih jika Anda memiliki faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.
Hipertensi merupakan penyakit yang berbahaya, karena bisa terjadi tanpa gejala. Bahkan, pada beberapa kasus, gejalanya baru muncul setelah hipertensi makin parah dan sampai mengancam nyawa. Gejala yang dapat muncul pada kondisi tersebut antara lain:
• Mual
• Muntah
• Sakit kepala
• Mimisan

• Sesak napas
• Nyeri dada
• Gangguan penglihatan
• Telinga berdenging
• Gangguan irama jantung
• Darah dalam urine

Kapan Harus ke Dokter ?
Lakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala ke dokter minimal dua tahun sekali mulai usia 18 tahun. Jika Anda berusia 40 tahun ke atas atau berusia 18–39 tahun tetapi memiliki faktor risiko hipertensi, pemeriksaan tekanan darah disarankan dilakukan setahun sekali.
Bila Anda telah didiagnosis menderita hipertensi, lakukan pemeriksaan tekanan darah sesuai jadwal yang ditentukan oleh dokter. Anda juga dapat memeriksa tekanan darah secara mandiri menggunakan alat ukur tekanan darah yang dijual bebas.
Perlu diketahui, gejala yang telah disebutkan di atas tidak selalu terjadi pada setiap penderita hipertensi. Oleh karena itu, jangan menunda pemeriksaan tekanan darah sampai gejala muncul, karena bisa akan berakibat fatal.

Penyebab Hipertensi

Hipertensi dibagi menjadi hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi primer berkembang selama bertahun-tahun dan tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Hipertensi primer merupakan jenis hipertensi yang paling sering terjadi.
Berbeda dengan hipertensi primer, hipertensi sekunder bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi, yaitu:
• Penyakit ginjal

• Penyakit kelenjar tiroid
• Tumor kelenjar adrenal
• Kelainan bawaan pada pembuluh darah
• Kecanduan alkohol
• Penyalahgunaan NAPZA

• Gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur (sleep apnea)
• Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat penurun panas, obat pereda nyeri, obat batuk pilek, atau pil KB

Faktor Risiko Hipertensi
Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terserang hipertensi, di antaranya:
• Bertambah usia, terutama di atas 65 tahun
• Hamil

• Jarang berolahraga dan melakukan aktivitas fisik
• Kurang mengonsumsi makanan yang mengandung kalium
• Memiliki keluarga dengan riwayat tekanan darah tinggi
• Menderita obesitas, sleep apnea, diabetes, atau penyakit ginjal
• Mengonsumsi terlalu banyak makanan tinggi garam
• Mengonsumsi terlalu banyak kafein
• Memiliki kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol

Diagnosis Hipertensi
Dalam menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan tanya jawab terkait riwayat penyakit pasien dan keluarga pasien. Dokter juga akan bertanya mengenai gaya hidup pasien, seperti kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol. Diagnosis hipertensi dilakukan dengan mengukur tekanan darah pasien menggunakan alat yang disebut sphygmomanometer. Berikut ini adalah tahapan pemeriksaan tekanan darah yang benar agar didapatkan hasil yang akurat:
• Pasien tidak boleh berolahraga, merokok, dan mengonsumsi minuman berkafein 30 menit sebelum pemeriksaan tekanan darah.
• Pasien akan diminta untuk buang air kecil terlebih dahulu, kemudian duduk rileks di kursi dengan kaki berpijak di lantai.
• Pasien perlu menggulung lengan kemeja atau melepas pakaian yang menutupi area pemasangan manset sphygmomanometer.
• Pasien tidak boleh berbicara selama pemeriksaan tekanan darah berlangsung.

• Dokter akan mengukur tekanan darah pada kedua lengan pasien, lalu pengukuran akan diulang di lengan dengan tekanan darah yang lebih tinggi.
• Dokter akan mengulang pengukuran tekanan darah minimal dua kali dengan jeda 1–2 menit.
Selanjutnya, hasil pengukuran tekanan darah akan diklasifikasikan sebagai berikut:
• Normal: berada di bawah 120/80 mmHg
• Meningkat: berkisar antara 120ꟷ129 mmHg untuk tekanan sistolik dan kurang dari 80 mmHg untuk tekanan diastolik

• Hipertensi tingkat 1: 130/80 mmHgꟷ139/89 mmHg
• Hipertensi tingkat 2: 140/90 mmHg atau lebih tinggi

Kemudian, untuk mencari tahu penyebab tekanan darah tinggi dan mendeteksi kerusakan organ yang mungkin terjadi akibat hipertensi, dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan:
• Tes darah, untuk mengukur kadar kolesterol dan kreatinin
• Tes urine, untuk mengukur kadar elektrolit dan hormon
• Elektrokardiogram, untuk mengetahui aktivitas listrik jantung
• CT scan perut, untuk mengetahui kondisi kelenjar adrenal
• USG ginjal, untuk memeriksa kondisi ginjal

Pencegahan Hipertensi
Cara mencegah hipertensi adalah dengan menghindari faktor yang dapat meningkatkan risiko terserang penyakit ini. Beberapa cara efektif yang dapat dilakukan adalah:
• Raih dan pertahankan berat badan ideal.
• Lakukan olahraga rutin, seperti jalan cepat atau bersepeda 2–3 jam setiap minggu.
• Konsumsi makanan rendah lemak dan kaya serat, seperti buah dan sayuran.
• Batasi jumlah garam dalam makanan, tidak lebih dari 1 sendok teh per hari.
• Hindari konsumsi minuman beralkohol.
• Batasi konsumsi minuman berkafein.
• Hentikan kebiasaan merokok.

Selamat Memperingati Hari Hipertensi Sedunia

Mari kita cegah hipertensi sedini mungin, untuk kualitas hidup yang lebih baik dimasa depan.

Salam Sehat, Kasih untuk Sembuh🤍🤍

Leave a Reply

Close Menu